Showing posts with label unSPOKen. Show all posts
Showing posts with label unSPOKen. Show all posts

Monday, October 20, 2014

EPITAF HUJAN

Tlatah hati makin sepi
Sejak kemarau mengubur rinai
Dalam sungai yang kini kering
Sisakan alur-bilur, menggaris hati

Ah, sudahlah
Lagipula kau tak pernah bisa membaca hujanku
Maka, saat kunisankan ia
biar saja tersembunyi dalam sajak tanpa (banyak) kata

Semarang, 24-04-2004

#AnotherLATEpost

INSOMNIA



Detik mati tepat di jantung sunyi
Malam pun terhenti
Suara hilang, pikiran terjebak dalam koma
panjang

(Magelang, 14-06 -2014 )

#anotherLATEpost

DEMOKRASI

Entah salah siapa jika di tanah ini
Demokrasi menjadi kunci
Membuka rantai dalam hati
Melepaskan anjing, menyeruak keluar dari mulut kami

Magelang, 25-06-2014


NB: Another late post

SAAT PUISI MENJADI ANJING

Kita harus berkaca
Apakah masih nampak manusia
Dalam cermin itu

Magelang, 26 Juni 2014


NB: Ini juga postingan yg terlambat

MENGGAMBAR MATAHARI

Seseorang menggambar matahari di langit gelap
Tetapi hanya gambar
Berlari-lari orang mendekat terpesona
Sudah rindu mereka pada cahaya
Berdesakan, berebutan hingga saling cakar
Hanya demi memuaskan kerinduan mereka pada cahaya
Lalu orang-orang mulai terluka dan berdarah

Seseorang menggambar matahari lebih besar
Orang-orang kian garang, saling tikam
Tanpa sadar darah sudah menganak sungai
Dia yang mennggambar matahari
Tersenyum diam-diam menampung tinta di cawan emasnya
Yang menetes dari tubuh-tubuh cabik
Untuk menggambar matahari

( Magelang, 12-06 -2014 )



NB: Postingan yang terlambat karena baru ingat buka blog sekarang :p. Puisi ini ditulis dalam rangka memenuhi tantangan dedah puisi di sebuah group di Facebook.

Wednesday, March 6, 2013

MEMBACA SEBUAH AWALAN (Kangen)



Kepada aksara yang terserak
Antara puing dan waktu
Nyanyian terpatah
Gema yang memantul dalam goa
Entah sampai ketelinga atau lenyap ditelan senyap
Namun selalu ada sesuatu yang mengetuk, kau dengar itu?


Raksaka Nala. 

ditulis pada February 10, 2013. Diposting pada 6 maret 2013

Tuesday, March 5, 2013

ALAMAT TIDAK DITEMUKAN

Pintu diketuk, mengalihkan  perhatian  Jhuan yang sedari tadi sedang mengutak-atik komputernya yang ngadat. Jhuan meninggalkan komputernya acak-acakan di meja, melangkah  ke ruang depan. Sekilas dia mengintip dari balik tirai jendela.

"Damn !” umpatnya.

Dibukanya pintu dengan wajah ditekuk demi menyambut tamu yang telah membawa mood  nya jadi buruk. Kurir pembawa paket itu terlihat gugup. Mungkin jeri melihat penampilan tuan rumah. Maklum tampang Jhuan acak-acakan. Mata merah karena semalaman begadang ‘menggarap’  komputer tua-nya yang entah kenapa, nggak mau perform seperti biasanya. Rambut ikal sebahu yang semrawut, tubuh kurus layaknya junkies, celana jeans yang entah sudah berapa abad tak tercuci, kaos kutung yang menegaskan  kekurusannya dan tak ketinggalan, tato di sekujur tubuh hingga sebatas leher yang seolah-olah berkata : ”Apa lu liat-liat? Ngajak berantem?”

Saturday, January 19, 2013

Hidup Lelaki

Lingkar liar jalan-jalan ditelan gelap
malam yang panjang tanpa tanda
Bintang tak lagi menunjuk arah
Melesat jatuh lalu musnah
Terbakar!

Lalu anganpun mulai tumbuh belukar
Tebas, aral melibas
Henti, waktu menikam nadi
Pilihan hanyalah terus maju karena itu
Setidaknya menunda mati

Inilah hidup, tepuk dada dan melawanlah!
Lelaki tak boleh terbaca, simpan saja cuaca dalam dada
Telan,dan tetap bertahan!

Raksaka Nala, subuh 19 Jan 2013

Monday, October 15, 2012

KILAS BALIK


aku ,berkaca pada masa
lalu, kisah terbuka di tiap mukim
musim, silih berganti menggurat tanda
luka, seperti pahat seorang seniman
patung, mencipta keindahan...semoga


Raksaka N ala, 14 Okt 2012

Tuesday, October 9, 2012

Untuk Dua Yang Tak Mungkin

Hujan tandas musim kali ini
Tak ada lagi deru haru pun jua gelisah ikan-ikan menanti perubahan cuaca
Awan memilih membekukan butir-butir embun daripada menjatuhkannya
Ikut bersama angin, mengembara ke luas cakrawala
Ah... begitupun residu masih biru

Biar saja
Sebab pilihan kadang serupa menikam jantung sendiri, harakiri demi harga diri
Maka biar kutikam jantung puisi hingga detaknya senyap
Sebab dengan begitu, aku bisa melangkah tanpa perlu ragu

Selamat tinggal, matilah kalian dalam sunyiku!

Friday, January 20, 2012

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Sembilan)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi terakhir dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul

(Sembilan)







Aku sedang belajar pada laut,tentang cara ia mewarnai
air
Bening, biru, teduh cahaya penuntun
kita
Untuk rasa yag harus kujaga demi tetap beningnya telaga
hati
Aku harus tetap berdiri meski menepi
kan
Rindu bertali-temali jerat tarik aku yang meradang menahan kejang
demi
Kian kelu lalu haru... ah, luka..seberapa nganga lagi
harus
Meruap demi menjadi kandung yang melahirkan benci?



Mari, sini.... kubasuh luka dalam hujan
lalu
Lihat bahwa luka itu adalah benih mentah dari sabar
biar
Lepas, pasrah hingga terserap
gersang
Bumi menampungnya, pada waktu dan tempat yang tepat dia
jadilah
Mata air mengalir sungai-sungai menghidupi nuju tempat
kembali
Merumahlah pada muara hati yang sejati



Tak perlu kata-kata maka
diam
Diamlah pun jua jangan lagi menangis

Raksaka, 20 Jan 2012 - senja menutup hujan

Thursday, December 29, 2011

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Delapan)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi kedelapan dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Delapan)




Ada deru haru sembunyi di celah sepi
Diam-diam mematahkan tawamu
Dan kau gagal memerangkap matahari dibibirmu
Tinggal serak nanarnya :
                                   api itu

Tahukah kamu, apa yang tak nampak dan pecah itu
Serupa serpih kaca tajam menakik wajah (ku)
Lalu perih dan letih...
kadang,
Sesekali akupun ingin jadi kabut
Sesekali akupun ingin menjelma saujana
Menyublim dan mengukur jarak
Detak diam-diam

Kadang... seperti sekarang ini

Raksaka, 29 Des 2011 - malam dan hujan yang menjelma kabut

Wednesday, December 28, 2011

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Tujuh)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi ketujuh dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Tujuh)





Malam-malam begini
Saat hujan menyapih bibirku
Namamu samar dalam tiap derai nya
Disulam menjadi batu dalam dada
Ada detak jam yang diam-diam menyelinap
Menanam hening di jantung keriuhan
Lalu tumbuh seribu alang-alang
diam,tegak, menusuk-nusuk malam

Lalu langit luka
Lalu hujan lagi
Lalu kabut
Lalu....


Raksaka, 28 Des 2011 - malam dan hujan

Thursday, December 15, 2011

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Enam)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi keenam dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Enam)




Angin membisikkan kata pada awan
Awanpun berubah gelisah menanggung beban
                                                                    (sebuah rahasia yang harus dikunci)

Waktu memintal jaring-jaring, makin erat
Awan menua, mendung menyulap udara jadi dingin
Ah... kurasa hari ini kembali hujan akan turun


Hujan itu
Tiap tetes adalah rindu dan cinta yg harus kutahan
Biar luruh terserap musnah oleh bumi tenang hingga,
suatu saat nanti kan kujelmakan mata air
tempat kau melepas dahaga... lalu hirup, reguklah tanpa sisa


Raksaka, 15 Des 2011 - sore yang hujan

Saturday, December 10, 2011

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Lima)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi kelima dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Lima)



Peta telah digelar, bersimpangan
Kenali empat penjuru angin
Setiap kiblatnya memiliki tanda yang harus kau eja
Sebab hidup bukanlah  semata garis lurus dan kadang  harus menjejaki setiap arah sebelum
tuntas keyakinanmu untuk melangkah
Maka bacalah tiap arah dan kenali jalanmu


Di barat...matahari terkubur tidur :
                                                  dalam peluk semesta, meletakkan tanda pertama
Di timur... angin bersiutan menari:
                                                  menggambar awan-awan pecah tak jadi bentuk
Di utara... cuaca berubah:
                                      hujan yang kehilangan mukim, musim yang terluka
Di selatan... bintang tersesat :
                                             tertatih menyapih gelap, cahayanya masih tersisa


Tarik garisnya, lalu lihat... dimana kita meletakkan titik
temu

Raksaka, 10 Des 2011 - tengah malam

Monday, November 28, 2011

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Empat)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi keempat dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Empat)




Menyisip dalam sudut yang tak terekam mata
Aku meniti hening lepas dari radarmu
Diam,menghunus waspada
Mengendap-endap rimbun hutan kata-kata

Ya, aku memang sedang sembunyi,
bukan untuk lari....tapi menunggu


( andai kau melihatku, aku menjelma serigala lapar bertaring sunyi)


Raksaka Nala, 28 nov 2011 -dini hari

Sunday, November 27, 2011

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Tiga)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi ketiga dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Tiga)




Ada sisa sabit dalam lengkung senyummu
Ada kabut di sudut telaga matamu
Kita tertawa dalam permainan yang kau cipta
Tak perlu tentukan siapa kalah siapa menang, katamu
Sebab yang kita mau hanya mengingkari luka

ah,

Kau masih saja melipat rahasia,
Tidakkah kau tahu, mendung itu tak bisa luput dari mataku?

Raksaka Nala  271111 : jam satu siang, tanpa hujan

Friday, November 18, 2011

Sembilan Penggalan Tanpa Judul (Dua)

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi kedua dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Dua)

Masih mencoba memahami petuah para sepuh,
Dalam dada itu bersemayam lautan sabar


Tetapi debar selalu cabar
Gelombang tak henti bergulung dalam dada
Menafikan percaya hingga kandas
Dalam palung tergelap lalu cahaya satu persatu padam
Badai itu, merumah dalam dada.... lalu dimana,
                                                    letak sabar itu?

Masih mencoba memahami petuah para sepuh,
Dalam dada itu bersemayam lautan sabar
Yang ternyata kutemui selalu bergulung seperti badai
Meredamnya...itulah sabar


Raksaka Nala  191111 : sepuluh-delapan belas - malam

Sembilan Penggalan Tanpa Judul ( Satu )

Ini adalah puisi yang aku kembangkan dari bait-bait acak yang kutulis dalam status-status facebookku. Ada sembilan bait yang pernah kutulis tanpa kuniatkan menjadi puisi, tetapi belakangan ini aku merasa sayang kalau itu hanya menjadi  status saja.... maka aku meniatkan menjadikannya utuh.  Dan ini... puisi pertama dari sembilan bait acak itu



Sembilan Penggalan Tanpa Judul


(Satu)

Imaji mati jadi jeruji-jeruji
Waktu membatu terbelenggu
Pada titik yang selalu terpenggal lalu koma
Seolah dekat padahal hanya saujana
Konstan... sebanding lurus kecepatan dan jarak tercipta


Partitur terserak ditiup angin
Dawai-dawai berkarat, namun lagu terlanjur melekat dalam lubang
Resonansi sunyi menyihir mencipta nada
Menyusunnya dalam skala pentatonic yang merobek
Lalu seperti ayunan arpegio
Melambungkan, menjatuhkan dengan jarak .... rindu itu bisu
Hanya senyum yang merupa keniscayaan,
Bukan bahagia ataupun luka, lalu apa?



Raksaka Nala  181111 : dua dinihari



Saturday, August 6, 2011

Senyum

Rembulan sabit semalam,
Kupungut, lalu kutebas awar-awar
                  belukar yang menghampar di bibirku
Siangi pagi dengan tajamnya
Terasah oleh keras batuan yang bergelayut dipundak
Maka lihatlah:

Matahari terbit dibibirku,untukmu
Seulas, dan pulaslah kau

 Raksaka, 4 dinihari : 06082011
By three methods we may learn wisdom: First, by reflection, which is noblest; Second, by imitation, which is easiest; and third by experience, which is the bitterest.
-- confucius --

Never regret a day in your life. Good days give you happiness; Bad days give you experiences. Both are essential to life (N.N)