Saturday, February 12, 2011

Resah Dalam Secangkir Kopi




Kuteguk kopiku,
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

pahit.



Adakah kau rasa jeda yang begitu sunyi itu?
Menyitir setiap detik menjadi detak
menyentak setiap rahasia dalam benak
Andai saja kau mampu masuk dalam sunyiku
kau akan menutup telinga karena bising!

Pagi,

Kusitir harapan di kelebat angin
Kataku pada angin:  Pergi!
tuailah mendung untukku…sebab, aku masih belum selesai bercumbu dengan hujan,
malam tadi.

Seperti kesunyian  lupa diri yang hidup dari membunuhi puisi
Itu rinduku untukmu
Tapi,
Jari-jariku lupa cara menuliskan huruf
Kata-kata hanya sukma yang kehilangan jasad, mengembara dalam gaibnya ruang kepalaku
Seperti puisi yang mati,
aksara tak tereja dan makna tetap menjadi rahasia
terlanjur,
Sebab patahnya anak kunci dan rasa tersegel dalam ruang pengap
 
Tak seperti dongeng para sepuh ternyata,
Di dadaku bukan lautan sabar yang bersemayam
Disana adalah lautan, dimana badai bersemayam bersama buih dan gelombangnya
Selamilah dasarnya
Sebuah peti
Sebuah Hati
Terkunci,
       dan telah patah anak kunci ditanganmu


Degup, letup...
jantungku mengetuk-ngetuk nada arpegio dimainkan dalam broken chord: 
adalah resah esok malam...ah! kutahan dan terlepas begitu saja


you, my sugar...
Raksaka Nala, 12/2/2011

Tuesday, December 21, 2010

Blues






La-Do-Re...
angin -  awan – mendung

Angin bergetar dalam lubang-lubang hati,
Mencabik sunyi namun tak robek dan nada mengalun tandas saat
Sunyi di ujung jari jari hujan
Memilah dawai yang membentangi jurang
Adalah jarak yang kau dan aku ciptakan meski,
Tak putus kusirap khabar diam-diam
Dari balik kabut aku menanti, mencoba menerka cuaca
Tahukah kau, awan bergerak dari langitmu, kini menjelma mendung di berandaku


Mi – Sol – La…
hujan -sungai - laut

Ah... resah yang rapat kau kemas itu
Mengirimkan hujan teka teki yang masih saja
Kucoba susuri tiap sungai-sungainya..berharap jawaban menjadi laut yang sabar
Bukankah oarang-orang tua dahulu berkata,
dalam dada yang tabah itu bersarang lautan?
Meski belum mengerti mengapa kautikam jantungku dengan telak
Kuterima saja sebab aku ingin tahu jawabannya


Malam tadi masih kunyanyikan sebuah lagu untukmu
Nada-nada minor dalam skala pentatonic yang menyatu dalam kopiku
Dengarlah, wanitaku… ini blues tentang kita


raksaka, 21 Des 2010

Friday, December 10, 2010

Telanjang Kita Sama

 Untukmu, Pengelana Hati


Aku akui..kau  lah puisi yang menyihir
Lekuk tubuhmu sejuta duga yang liar membakar
Satu kali pagutan bibirmu adalah beribu-ribu rindu yang terkurung dan lalu lepas bersamaan
Dihadapanmu, hurufku kaku dan bait-bait mati

Namun puisi tetaplah puisi
Hanya meyihir bila akalku berteka teki
Saat telanjang tanpa makna, kau dan aku nyata sama
Hanya punya rasa

raksaka,
kamar pengap 11:18 AM- 101210
By three methods we may learn wisdom: First, by reflection, which is noblest; Second, by imitation, which is easiest; and third by experience, which is the bitterest.
-- confucius --

Never regret a day in your life. Good days give you happiness; Bad days give you experiences. Both are essential to life (N.N)