Sunday, April 10, 2011

Serpih I (Sebuah Prototype)

Tuhan Menjawab Dengan Cara Nya

Ini, sebuah kisah tentang Bintang dan Matahari

Bintang, pemuda yang kaku, pendiam dan keras kepala
Matahari, gadis periang, cerdas dan sedikit manja


Kisah mereka berawal dri sebuah SMU, dimana Bintang dan Matahari menuntut ilmu. Bintang satu tingkat lebih senior dari matahari. Mereka dipertemukan dalam satu wadah kegiatan extrakurikuler.

Bagi Bintang, cewek-cewek itu sama saja, suka membuang-buang waktu dengan bergosip tentang cowok-cowok tajir, bagi dia cewek itu ga bisa dipercaya, suka memberi harapan pada banyak cowok untuk keuntungan mereka : leluasa memilih yang terbaik diantara yg terbaik ( bagi bintang itu hal yg memuakkan...baginya, lelaki itu bukanlah pilihan yg bisa seenaknya dipilah-pilah lalu disingkirkan begitu saja,setelah nemu yg lebih baik). Karena hal itu, Bintang tak pernah ramah pada cewek Tatapan matanya selalu tajam menghunjam bila bicara dengan cewek. Itu sebabnya nggak ada yg berani menantang nya beradu mata, kecuali.... Matahari!

Matahari, gadis manja dan periang... namun berani menantang mata Bintang, suatu ketika...... hanya 1 menit, dan itu cukup membuat Bintang tahu bahwa matahari memang beda. Singkat cerita Bintang jatuh cinta dan gayung bersambut. Bintang dan matahari menjadi sepasang kekasih.

Perasan cinta Bintang semakin dalam. Suatu ketika, saat dia sedang sholat, setelah sholatnya Bintang bersujud dan dari hatinya yg paling dalam terucap do'a :

Ya Allah, hamba mencintai Matahari, jika memang ia jodoh untukku, langgengkanlah kami sampai pernikahan dan ajal kami, jika dia bukan jodoh untukku, maka akhirilah semua ini segera...

Hari berhganti setelah sujud itu, sampai
3 bulan berlalu tiba-tiba semua berubah. Matahari berubah... ia menjauh dan semakin menjauh. Bahkan untuk bicara dari hati ke hati, Bintang harus bersusah payah. Saat itu bintang telah lulus dri sekolah itu, sudah tidak ada komunikasi lagi. Akhirnya... degan susah payah Bintang berhasil memaksa bicara dengan Matahari, di suatu siang di pinggir jalan menuju rumah Matahari karena setiap kali ke rumah matahari, gadis itu selalu sembunyi. Maka Bintang sengaja menguntit Matahari sepulang sekolah dan mencegatnya.

"Kamu berubah... kamu mempermainkan aku!" Bintang mulai dengan meradang. Matahari menunduk,diam seperti batu

"Katakan! kamu mencintai orang lain?!" Bintang yang tidak sabar mencecar dengan tuduhan langsung

Matahari tetap diam, semakin batu ia.

"Apa salahku? apa kamu hanya mau bermain-main dengan hatiiku?" Bintang kembali mendesak dengan pertanyaannya, suaranya parau.

"Bukan begitu....aku tidak bermaksud menyakiti hati mu..." kalimat Matahari seperti bisikan lemah, ditelan suara lalu lalang kendaraan bermotor

"Lalu apa ini.........?????" Bintang menatap lekat mata Matahari, tak seperti dulu waktu Bintang jatuh cinta pertama kali, kali ini Matahari hanya mampu membalas tatapan Bintang selama kurang dri satu detik, lalu tunduk...kuyu.Suasana membeku di terik siang itu....suara lalu lalang mobil seolah hilang begitu saja. Bintang tak sabar lagi, dia lalu memberi ultimatum

"OK. Sekarang, aku ikuti kemauanmu! aku anggap sikapmu itu adalah cara agar aku memutuskan hubugan kita. Tapi maaf, aku ini laki-laki... pantang bagiku memutuskan komitmen yang aku buat secara sepihak, jadi... percuma kau berharap aku memutuskan hubungan ini bila kau tak memintanya. Jika kau memang mau menggantung semua ini, maka aku akan selalu membayangimu setiap saat! Jadi, katakn! apakah kamu memang menginginkan ikatan ini putus?!" kemarahan Bintang tak terbendung lagi. Kata-katanya semakin tajam, suara berat namun tandas seperti peluru yang tanpa ampun menembus jantung pertahanan Matahari.

Matahari tercekat, terbelalak dan tak menyangka akan mendapat pertanyaan sepert itu.

"Kmu tidak bisa seperti itu! Curang!" suara Matahari meninggi

"Terserah! Ini adalah prinsip yg aku pegang! jadi..sekarang... katakan, kamu mau kita terus atau putus????" suara Bintang tetap rendah, walau bergetar namun tetap tegas

Hening lagi, setelah hampir 15 menit saling diam matahari mencoba mengalihkan topik

"Sudah sore, aku harus pulang!" katanya. Dan ini sudah dihafal Bintang sebagai sifat Matahari yang selalu mencoba menihilkan masalah dengan mengalihkan ke topik lain, berharap kemudian semua berlalu dan terlupa. Tapi kali ini, Bintang sudah tidak bisa mentoleransi itu.

"Terserah! kamu pulang, aku ikut ke rumahmu, biar sekalian orang tuamu mendengar ini semua!" Bintang mendesis, suaranya meninggi, dan tatap matanya menyorotkan ancaman.

Matahari terbelalak... tak bisa mengerti dgn kekeras kepalaan sang Bintang. Matahari lebih dari paham, bahwa itu bukan ancaman kosong. Dia tahu benar siapa Bintang, apa yang dikatakan pasti akan dilakukannya. Dan Matahari benar-benar tidak mau segala permasalahan ini akan terbawa sampai ke rumah, dia yang selama ini selalu menjaga agar rumah adalah surga, tanpa konflik tidak mungkin membiarkan Bintang yang marah datang ke rumahnya. Matahari bimbang, gelisah dan ingin sekali saat itu dia menghilang dari pandangan.

Lima belas menit berlalu, Matahari galau tak tahu harus bagaimana, akhirnya pecah tangis Matahari.... sambil terisak, bergetar suaranya terucaplah kalimat itu.
"Ya...aku ingin kita putus!" Matahari menangis, nafasnya tak beraturan, dadanya naik turun.

Bintang merasa tusukan pertama di jantungnya,wajahnya mengelam, tangannya terkepal.... dengan bergetar dia bertanya: "MENGAPA?"

namun pertanyaan bintang itu tak pernah terjawab....Matahari hanya menangis dan minta agar Bintang membiarkan dia pulang...air mata itu... ah... saat itu benar-benar saat yang paling membuat Bintang frustasi. Rasa kecewa dan penasarannya harus diadu dengan air mata? Satu titik lemah Bintang yang paling telak: air mata wanita!

Akhirnya, dengan hati koyak, Bintang berbalik... sambil berlalu dia sempat mengucapkan sedikit kata.

"Pulang lah..."

Dengan penuh amarah Bintang melangkah cepat menyusuri jalan sepanjang Tanjung - Pakelan ditemani bayang-bayang nya yng memanjang,ah betapa senja yang gerah!



Hari berlalu, berganti bulan dan tahun... bintang masih menyimpan satu tanda tanya : MENGAPA????
Tak cuma sekali dua kalui bintang berusha menyirap khabar tentang matahari, seperti detektif mencoba mencari tahu apa yg terjadi pada hati Matahari? tapi semuanya tak pernah terungkap. Tak ditemuinya tanda-tanda Matahari dekat dengan laki-laki lain. Tak ditemukan informasi Matahari mengidap suatu penyakit kronis, tak ditemukan penentangan hubungan mereka oleh orang tua/keluarga matahari...lalu.... MENGAPA??????? seolah2 cinta Matahari lenyap begitu saja tanpa bekas...tanpa jejak. Bintang makin tenggelam...hidupnya tak terarah..... dia mulai turun ke jalanan. Namun seiring waktu bintang pelan2 mulai bisa berdamai dengan luka.... tak pernah bisa kebal terhadap rasa sakit dan luka, bintang mengalihkannya dengan banyak sekali kegiatan2 yang menantang adrenalin. Hingga pada satu titik keseimbangan, dia sudah tak peduli lagi pada luka itu. Bintang mulai bangkit, dibantu seorang sahabatnya dia kembali menjalin tali persahabatan dengan matahari. Tak bisa diingkari, rasa cinta bintang tak pernah berubah namun keaadaan yg ada mengharuskan Bintang mengubah rasa cinta itu menjadi persahabatan.... dan dia berhasil!

Walau tak begitu menggebu seperti dulu... Bintang masih tetap menyimpan satu luka dan menguncinya rapat-rapat luka dalam bentuk tanya: MENGAPA? ah mungkin memang tak semua pertanyaan harus mendapatkan jawaban, begitulah kira-kira cara bintang mendamaikan hatinya,hingga, suatu hari di pergantian tahun....


***************


Saat itu Bintang sedang mendaki gunung. Namun tak seperti biasanya, dia tak bisa menikmati nya. Tubuhnya serasa begitu penat dan ingin segera turun dari puncak dan pulang, hingga dia memutuskan kembali lebih cepat dari kebiasaannya. Tak lagi betah ia berlama-lama menatapi arak-arakan awan atau menikmati desau angin di padang edelweis.

Hari itu hari pertama awal tahun, tahun sekian sekian,Bintang dalam sebuah angkot, menuju rumahnya selepas turun gunung. Dia mengeluarkan HP nya, lalu mengaktifkannya. Satu pesan singkat masuk, dari sahabatnya.Matahari kecelakaan kemaren sore , dan meninggal dlm perjalanan ke RS...

Bintang hening, HP nya hampir terlepas dari tangannya... sedang angkot itu, sudah berhenti.

"Mas... katanya tadi turun sini, dah nyampe mas!" kernet angkot memecah kekosongan Bintang dan menariknya ke dunia nyata lagi.

***************

Suasana pekuburan syahdu. Bintang berdiri kaku, tatapannya terpaku pada lubang yang perlahan-lahan diurug oleh beberapa lelaki yang bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot keras berbalut kulit legam berkilat disaput keringat. Dalam hati Bintang masih ada satu pertanyaan: MENGAPA? dan itu belum terjawab.

"Kasian ya... masih muda, cantik dan pintar, ramah pula... emang jaman sekarang harus ati-ati naik motor..." sayup Bintang mendengar perbincangan orang yang melayat yg berdiri dibelakangnya. Orang yang berkata tadi seorang laki-laki paruh baya mengenakan kaos berkerah warna coklat gelap.

'"Ya.. tapi mau gimana lagi? kalo sudah ditetapkan umur hanya sampe segitu aja.... ga ada yg bisa nolak kematian!' timpal laki-laki disebalahnya. Dia lebih tua dari laki-laki pertama tadi, mengenakan baju koko warna hitam dan rambutnya keriting dan memutih menyembul karena peci hitamnya kurang sempurna terpakai di kepalanya.

Dialog singkat dua orang itu terngiang-ngiang terus, dan terus seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang dikepala Bintang.

....... kalo sudah ditetapkan umur hanya sampe segitu....

Dheg! jantung Bintang tercekat!

Ini... inikah jawaban itu ya Allah....? jawaban pertanyaanku, dan juga jawaban do'a ku????????

Tiba-tiba bumi seperti berotasi terbalik, waktu berputar ulang. Bintang terlempar dalam pusaran tanpa ruang, tanpa waktu. Adegan demi adegan ditampilkan bergantian, dimulai dari dia berdiri di pekuburan itu, mundur menampilkan kilasan-kilasan saat dia di angkot dan menerima sms, saat dia di puncak gunung dan resah teruus saja mundur ke kejadian-kejadian yang dialaminya bersama Matahari dan berhenti pada 'scene' saat dia bersujud setelah sholatnya dulu, saat dia mengucap do'a:

Ya Allah, hamba mencintai matahari, jika memang ia jodoh untukku, langgengkanlah kami sampai pernikahan dan ajal kami, jika dia bukan jodoh untukku..maka akhirilah semua ini segera

Mata Bintang terbelalak, kepalanya seperti di godam... kesadarannya berangsur-angsur pulih seiring detak jantungnya yang kian teratur. Dia tiba-tiba saja seperti menemukan cahaya yang dia cari selama ini : sebuah jawaban.

Pikiran bintang cepat merangkai kesimpulan: Allah tau cintanya pada Matahari tulus maka Allah memisahkan Bintang dan Matahari karena Allah TELAH MENETAPKAN umur Matahari hanya sampai pada hari kemaren... Allah tahu bahwa jika TIDAK dipisahkan sejak awal, Bintang AKAN LEBIH HANCUR LAGI ...maka Allah memisahkan Bintang dan Matahari lebih awal... agar saat Matahari diambilNya, Bintang tidak akan sampai hancur luluh tak tersisa...


Sore di pekuburan, pelayat sudah bubar. Bintang tersenyum getir.

"Tidurlah Matahariku... aku mengerti sekarang..... kamu akan selalu ada di hatiku sampai kapanpun... tidurlah... aku rela InsyaAllah...."

EPILOG
seringkali Allah menjawab Do'a kita dengan cara yang tak kita mengerti.... seringkali kita memohon sesuatu, tapi lupa.... serigkali kita mendapat belas kasihan dari Allah tapi kita tak bisa mengerti.... sering kali kita SOK TAHU mengira apa yg kita pilih/kehendaki adalah yg terbaik...padahal itu semata2 hanya karena nafsu dan ego kita, padahal...kita tidak pernah tahu apa yg terjadi di waktu yg akan datang. Allah yg tahu apa yg akan terjadi di masa yg datang, bukan kita...jadi apa yg kita dapatkan saat ini, pasti ada tujuan utuk kebaikan masa datang



No comments:

Post a Comment

By three methods we may learn wisdom: First, by reflection, which is noblest; Second, by imitation, which is easiest; and third by experience, which is the bitterest.
-- confucius --

Never regret a day in your life. Good days give you happiness; Bad days give you experiences. Both are essential to life (N.N)