Sssst…..! diam!
Jangan berisik, melangkahlah dalam kuluman sunyi
Berdirilah dibalik gelap dan melihatlah menembus pekat
Berharaplah busur masih bisa terlengkung setelah kemarin diadu dengan matahari
Kita ini lelaki yang ditakdirkan sebagai pemburu
Meski siapa diburu dan siapa memburu kian tak jelas
.
Hutan belantara, padang rumput milik kita
Adalah beribu harapan yang tumbuh seperti alang-alang tercabut
Digilas tanpa belas robek dalam tikaman realita
Meski begitu, kita tetap harus berburu
Karena hidup kita esok tak ada yang peduli
Maka tulislah hidup esok dengan panah-panahmu sendiri
.
Janganlah sekalipun lena,
Mungkin akan ada satu mimpi yang lewat
Maka saat itu, yang tidur akan menyesal
Karena di belantara kita yang telah terampas ini, mungkin mimpi cuma lewat sekali
Maka jangan pernah terlena
Tak ada waktu untuk bersedih dan mengeluh letih
.
Selalu bersedia meski malam datang
Karena digelapnya kita bisa sembunyi sementara waktu
Mengatur posisi dan mengintai
Mungkin kita akan menemukan satu kesempatan
Untuk melepaskan panah yang mulai berkarat
Dan esok, kita akan berpesta menikmati mimpi
raksaka; Magelang 14 Des 2006
Kata-kata seperti sayap, membawa angan terbang ke langit khayal. Kata-kata seperti pisau, menusuk ulu hati dan melukai, atau kadang serupa mantra layaknya perisai, yang melindungi keyakinan! Kata-kata adalah nyawa yang menghidupkan sajak-sajak yang terlahir dari jiwa-jiwa yang gelisah
Sunday, May 31, 2009
Saturday, May 30, 2009
BAHASA
Kuli-kuli bicara bahasa batu
Kata kata merekaa keras kepala lebih lagi
Hari hari mereka adalah terik mentari, keringat dan sebatang rokok kretek
Menemani gunjingan-gunjingan porno
Preman-preman kampung bicara bahasa ular
Mendesis-desis setengah berbisik, setengahnya mengancam
Hari hari mereka adalah leliku kelam, parfum murah pelacur salah zaman dan sebotol topi miring
Beradu tajam tipuan terkadang sajam
Kontraktor pemborong bicara bahasa uang
Kata kata adalah perhitungan untung rugi
Hari hari adalah perencanaan dan progress pekerjaan
Beradu akal bulus buat memperbuncit perut
Pengembara nyasar sepertiku, baiknya sedikit saja bicara
Lebih aman buat berdiri di pinggir dan menajamkan mata-telinga
Supaya dapat menemukan dimana batu dimana ular
Biar bisa duduk dengan aman
Sebelum melanjutkan mengarungi tanah antah berantah ini
Walau tanpa peta yang sempurna, karena
Pengembara sepertiku selalu tak pegang uang
( kalo pegang uang tentulah aku ingin mengembara ke pelancongan)
Raksaka, Cisauk 27 Agustus 2008
Kata kata merekaa keras kepala lebih lagi
Hari hari mereka adalah terik mentari, keringat dan sebatang rokok kretek
Menemani gunjingan-gunjingan porno
Preman-preman kampung bicara bahasa ular
Mendesis-desis setengah berbisik, setengahnya mengancam
Hari hari mereka adalah leliku kelam, parfum murah pelacur salah zaman dan sebotol topi miring
Beradu tajam tipuan terkadang sajam
Kontraktor pemborong bicara bahasa uang
Kata kata adalah perhitungan untung rugi
Hari hari adalah perencanaan dan progress pekerjaan
Beradu akal bulus buat memperbuncit perut
Pengembara nyasar sepertiku, baiknya sedikit saja bicara
Lebih aman buat berdiri di pinggir dan menajamkan mata-telinga
Supaya dapat menemukan dimana batu dimana ular
Biar bisa duduk dengan aman
Sebelum melanjutkan mengarungi tanah antah berantah ini
Walau tanpa peta yang sempurna, karena
Pengembara sepertiku selalu tak pegang uang
( kalo pegang uang tentulah aku ingin mengembara ke pelancongan)
Raksaka, Cisauk 27 Agustus 2008
Cuaca Menuntut Keadilan
Mengamuk, mencabut dan hempaskan!
Cuaca yang terluka merangsek menerjang
O, betapa menakutkan murka ibu!
Tak kusalahkan kau melainkan kamilah yang melakukan dosa
Setelah apa yang kami perbuat dengan pepohonan, tanah udara dan air, anak-anak yang kau lahirkan lebih dulu
Setelah rakus perut kami mencerna habis mereguk susumu hingga kering
Yang mestinya kami jaga untuk kelahiran generasi sesudah kami
Dan hanya kami tinggalkan sampah dan juga tanah-langit cemar maka,
Inilah dosa yang harus kami tanggung
Mungkin juga langit terlampau muak
Menuntut balas atas pembunuhan demi pembunuhan yang kami lakukan pada nurani
Mendakwa dan mempertanyakan segala leliku hitam jelaga
Dan mengungkit segala kepalsuan kami untuk mengkamuflasekan borok borok kami
Mengamuk, meraung dan menggelegar!
Hujan angin dan guntur
Menciutkan nyali kami…O, betapa nyata kerdil kami
Maafkan kami Ibu,
Ampuni kami, Tuhan….
(Raksaka: Cisauk, 28 Agustus 2008, tribute buat angin puting beliung sore hari)
Cuaca yang terluka merangsek menerjang
O, betapa menakutkan murka ibu!
Tak kusalahkan kau melainkan kamilah yang melakukan dosa
Setelah apa yang kami perbuat dengan pepohonan, tanah udara dan air, anak-anak yang kau lahirkan lebih dulu
Setelah rakus perut kami mencerna habis mereguk susumu hingga kering
Yang mestinya kami jaga untuk kelahiran generasi sesudah kami
Dan hanya kami tinggalkan sampah dan juga tanah-langit cemar maka,
Inilah dosa yang harus kami tanggung
Mungkin juga langit terlampau muak
Menuntut balas atas pembunuhan demi pembunuhan yang kami lakukan pada nurani
Mendakwa dan mempertanyakan segala leliku hitam jelaga
Dan mengungkit segala kepalsuan kami untuk mengkamuflasekan borok borok kami
Mengamuk, meraung dan menggelegar!
Hujan angin dan guntur
Menciutkan nyali kami…O, betapa nyata kerdil kami
Maafkan kami Ibu,
Ampuni kami, Tuhan….
(Raksaka: Cisauk, 28 Agustus 2008, tribute buat angin puting beliung sore hari)
Subscribe to:
Posts (Atom)
By three methods we may learn wisdom: First, by reflection, which is noblest; Second, by imitation, which is easiest; and third by experience, which is the bitterest.
-- confucius --
-- confucius --